Muara Teweh pagi itu berbeda. Di halaman SDN 1 Melayu, suara anak-anak terdengar lebih riang dari biasanya. Mereka berbaris rapi, sebagian berbisik-bisik dalam bahasa daerah yang mungkin jarang mereka gunakan sehari-hari. Hari itu, sekolah mereka kedatangan tamu dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, yang membawa misi sederhana namun bermakna: menumbuhkan kembali cinta terhadap bahasa daerah melalui cerita.
Di sebuah ruang kelas yang berubah menjadi ruang baca sementara, beberapa siswa duduk dengan buku tipis di tangan—buku cerita bergambar berbahasa daerah dan Bahasa Indonesia. Warnanya cerah, ilustrasinya lembut, dan untuk sebagian dari mereka, ini pertama kali membaca cerita dalam bahasa nenek moyang mereka.
Kepala Balai Bahasa Kalteng, Dr. Sukardi Gau, M.Hum, terlihat tersenyum saat mengamati antusias anak-anak itu. Tidak semua dari mereka lancar membaca bahasa daerah, tetapi keberanian mereka mencoba sudah lebih dari cukup.
“Bahasa daerah itu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi identitas. Dan identitas itu harus dirawat sejak dini, terutama melalui sekolah,” ujar Sukardi, pelan namun penuh penekanan.
Kehadirannya hari itu bukan hanya untuk menyaksikan, tetapi juga melakukan Uji Keterbacaan Cerita Anak Dwibahasa—sebuah proses penting untuk memastikan bahwa buku-buku cerita yang disusun Balai Bahasa benar-benar dipahami oleh anak-anak. Di tangan merekalah masa depan bahasa daerah berada.
Anak-anak bergantian diminta membaca, lalu menceritakan kembali. Ada yang fasih, ada yang terbata-bata, ada pula yang tertawa kecil saat salah mengucap. Namun justru di situlah kehangatannya. Bahasa daerah yang selama ini lebih banyak terdengar di rumah, kini kembali hidup di ruang kelas.
Di sudut ruangan, seorang guru memperhatikan dengan saksama. Ia terlihat bangga ketika salah satu muridnya lancar membaca kalimat dalam bahasa Bakumpai. “Jarang sekali di kelas mereka menggunakan bahasa daerah,” katanya lirih. “Kegiatan ini membuat kami tersadar bahwa kita perlu memberikan ruang lebih besar untuk bahasa sendiri.”
Namun perjalanan menuju kebangkitan bahasa daerah tidak hanya berhenti di uji keterbacaan. Sukardi menjelaskan bahwa Balai Bahasa sedang merancang langkah-langkah lanjutan, termasuk uji keterterimaan, penyempurnaan materi, hingga kerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk memperkuat muatan lokal Bahasa Daerah.
“Kurikulum, bahan ajar, dan kompetensi guru harus dipersiapkan. Tidak bisa berdiri sendiri. Semua harus bergerak bersama,” ujarnya.
Barito Utara, menurutnya, adalah daerah yang beruntung. Pemerintah setempat memberikan perhatian serius pada penguatan bahasa daerah melalui kebijakan yang jelas. Itu sebabnya Balai Bahasa menjadikan kabupaten ini sebagai salah satu contoh baik di Kalimantan Tengah.
Ketika kegiatan berakhir, beberapa siswa masih menatap buku mereka seakan belum ingin menutupnya. Di wajah mereka tergambar rasa penasaran—rasa yang mungkin menjadi awal perjalanan panjang bagi bahasa daerah untuk kembali mendapatkan tempat terhormat.
Di bawah langit Muara Teweh yang hangat, sebuah harapan tumbuh: bahwa di sekolah-sekolah seperti SDN 1 Melayu, bahasa daerah tidak hanya dipelajari, tetapi dicintai. Bahwa di tangan anak-anak itu, bahasa daerah akan terus hidup, berkembang, dan menemani generasi masa depan.
Dan pagi itu, semua dimulai dari sebuah cerita. (red)

