Oleh : Budi Kurniawan
Di kota kecil antah berantah, Damar selalu merasa hidupnya seperti sebuah brosur motivasi yang hilang satu halaman paling penting yakni “Tujuan Hidup.”
Ia mendengar orang lain sudah punya tujuan sejak dini—ada yang ingin jadi dokter, arsitek, bahkan ada yang bercita-cita ingin kaya raya sebelum punya KTP.
Damar? Ia masih bingung apakah hidup harus dijalani seperti maraton, sprint, atau jalan santai di hari minggu?
Suatu pagi, setelah gagal menemukan makna hidup di kolom “About Me” di facebooknya, Damar memutuskan melakukan perjalanan spiritual kecil : Mencari Tujuan Hidup. Ia membawa tas, air minum, dan satu kitab kecil lusuh berjudul Al-Hikam yang pernah diberikan gurunya bertahun-tahun lalu—waktu ia hampir putus asa karena gagal ujian masuk kerja. Perjalanan spiritual kecil ini dibagi dalam 6 babak.
Babak 1: Sang Motivator & Hikmah Kesadaran
Perjalanan Damar dimulai ketika bertemu seorang motivator yang kerjanya memotivasi banyak orang walaupun dia sendiri sering gagal memotivasi dirinya.
“Tujuan hidup itu simpel! Ikuti passion! Jangan ragu! Jangan takut gagal!” teriak sang motivator dari atas panggung kecil.
“Kalau passion saya belum nemu?” tanya Damar.
“Ya temukanlah! Dunia ini luas!”
Damar melangkah pergi sambil membuka halaman pertama Al-Hikam untuk menemukan maknanya. Di situ tertulis:
“Di antara tanda bergantung pada usaha adalah berkurangnya harapan ketika gagal.”
Damar menelan ludah. “Kayaknya itu saya banget…” katanya sambil menulis sebuah catatan kecil : Jangan cari tujuan hidup dengan memaksakan ego. Cari dulu arah hatimu.
Ia melanjutkan perjalanan sambil sadar bahwa mungkin selama ini ia bukan kekurangan tujuan hidup—tapi terlalu banyak berharap semuanya sesuai skenario dan keinginannya.
Babak 2: Kaum Pekerja & Hikmah Rezeki
Dalam perjalanan selanjutnya, Damar bertemu para pekerja yang berjalan cepat dengan muka seperti dokumen fotokopi, datar dan hitam-putih.
Damar bertanya kepada mereka” apa sih tujuan hidup kalian, kerja bagai kuda siang malam tanpa henti? “
Mereka pun menjawab “Tujuan hidup kami? Sampai tanggal 30.” kata salah satu, “Selanjutnya…ya sampai tanggal 30 lagi “
Damar membuka lagi kitabnya untuk mencari makna apa tersirat dari hal itu.
“Usahamu mengejar sesuatu yang sudah dijamin bagimu, dan lalai dari sesuatu yang dituntut darimu, adalah tanda butanya mata hati.”
Ia terdiam.
“Yang dijamin itu rezeki… yang dituntut itu kerja dengan ikhlas, ya?”. Ia merasa sedikit malu—selama ini ia lebih sering mengejar rasa aman daripada makna.
“Jangan gelisah karena rezekimu, sebab Ia yang menanggungmu sejak engkau belum tahu arti meminta.”
Damar menutup kitabnya dan berkata dalam hati,
“Eh iya juga… dulu waktu bayi saja tetap hidup walau saya belum bisa cari uang.”. Damar kembali mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menuliskan sebuah hikmah
” Rezeki itu datang, tapi makna hidup kadang datangnya belakangan “.
Babak 3: Filsuf Taman & Hikmah Takdir
Perjalanannya terus berlanjut dan disebuah taman, ia bertemu dan menghampiri seorang filsuf yang sedang menatap awan.
“Tujuan hidup itu…”
Filsuf mulai bicara panjang, kata-katanya berputar seperti kipas angin rusak.
Damar membuka kitab lusuhnya lagi untuk menenangkan diri dan mencari sebuah makna.
“Manusia hanya berencana, namun takdir yang berjalan.”
Ia melanjutkan membaca lagi :
“Keinginanmu untuk terjadi apa yang telah ditentukan bagimu, padahal waktunya belum tiba, adalah tanda kurangnya adabmu kepada Allah.”
Damar menepuk dahinya sendiri.
“Mungkin selama ini saya terlalu stres ingin hidup saya cepat jelas, padahal waktunya belum sampai.”
Ia mengucapkan terima kasih kepada filsuf yang masih bicara tidak jelas, lalu kemudian pergi.
Babak 4: Nenek Pasar & Hikmah Penyerahan
Ketika sampai disebuah pasar, Damar bertemu dengan seorang nenek sedang mengupas bawang sambil tersenyum.
“Nek, apa tujuan hidup yang benar?”
Nenek menatapnya sambil mengibas kulit bawang dijarinya dan tersenyum kecil.
“Nak… manusia itu kadang terlalu sibuk mengatur hidupnya sendiri, sampai lupa bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur.”
Damar tersadar, dan kembali membuka kitab lusuhnya.
“Istirahatkan dirimu dari pengaturan. Apa yang mengaturmu lebih tahu daripada dirimu.”
Nenek menambahkan,
“Hidup itu dijalani nak, bukan dipaksa jadi sesuatu.”
Dan Damar merasa seperti baru menemukan bab paling jujur dalam hidup.
Babak 5: Sang Guru Tua & Hikmah Kehadiran
Di pinggir kota, ia menemukan seorang guru tua yang sedang duduk memandang sungai.
Damar bertanya, “Guru, apa tujuan hidup sebenarnya?”
Sang guru tersenyum. “Kau membaca Al-Hikam?”
Damar mengangguk.
Guru itu membuka satu lembarnya dan membacakan:
“Amalan yang paling mulia adalah amalan yang engkau berada di dalamnya sekarang.”
“Artinya,” kata sang guru, “tujuan hidupmu bukan yang jauh di depan. Tapi apa yang sedang Allah titipkan di hadapanmu.”
Lalu guru itu melanjutkan :
“Cahaya suatu amal adalah kehadiran hati di dalamnya.”
“Jika hatimu tidak hadir, sebaik apa pun rencanamu, engkau akan tetap merasa kosong.”
Damar tertunduk, merasa dipeluk oleh kalimat itu.
Babak 6: Pencerahan di Taman Senja
Senja turun. Damar duduk dan membuka dan merenungkan seluruh catatannya.
Lalu ia membuka satu hikmah terakhir:
“Tidak ada perjalanan dari suatu makhluk menuju Allah. Karena Dia yang akan menjemputmu.”
Damar menarik napas panjang dan tersenyum.
“Mungkin… tujuan hidupku bukan sesuatu yang harus aku buru, ya? Tapi sesuatu yang akan menghampiri kalau aku menjalani hidup dengan benar.”
Di kejauhan, seorang anak kecil mengejar gelembung sabun, tertawa tanpa memikirkan makna.
Dan entah mengapa, Damar merasa hikmah itu lebih masuk daripada semua seminar motivasi yang pernah ia tonton.
Hikmah Terbesar
Damar akhirnya memahami, tujuan hidup bukan sesuatu yang harus ditemukan di luar diri. Ia tumbuh dari hati yang tenang, dari amal yang hadir, dari langkah yang ikhlas, dan dari keyakinan bahwa Allah selalu menuntun tanpa henti.
Ia bangkit, menutup kitab Al-Hikam-nya, dan berjalan pulang.
Tidak dengan jawaban tunggal,
tapi dengan hati yang lebih lapang. (bdk)


Terima kasih
Inspiratif dan mengharukan
Al Hikam…melembutkan rasa menjadi manusia
Jangan pernah putus berharap dari rahmat Allah…,,🙏