KUALA KAPUAS–Aroma dupa dan asap kemenyan memenuhi udara di Kelurahan Sei Pasah, Kecamatan Kapuas Hilir. Puluhan warga berkumpul di tepian lokasi proyek pembangunan Jembatan Sei Asam–Balai Pertanian. Di tengah dentuman mesin dan lalu lalang pekerja, sekelompok tokoh adat Dayak Ngaju tampak khusyuk memimpin prosesi Manaur, Tampung Tawar, dan Ma Ancak.
Ritual itu dipandu oleh tokoh adat muda Kapuas Hilir, Kristian Stevanus, S.Sos atau akrab disapa Dedon. Sesajen berupa beras kuning, ayam putih, hingga tuak adat tersaji di atas anyaman daun, diletakkan di titik-titik yang dianggap sakral. Tidak hanya pekerja, bahkan alat berat seperti ekskavator dan tiang pancang pun diperciki air suci dalam prosesi Tampung Tawar.
“Ini bukan sekadar seremoni. Kami meyakini roh leluhur turut hadir menjaga. Jika kita tidak meminta izin, pembangunan bisa terganggu, entah kecelakaan kerja, hambatan cuaca, atau masalah lain,” jelas Kristian kepada media ini, Jumat (3/10)
Ritual adat Dayak Ngaju yang digelar bukan tanpa alasan. Dalam tradisi masyarakat setempat, pembangunan yang mengubah bentang alam harus melalui proses spiritual. Tujuannya menciptakan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, yang dalam kosmologi Dayak disebut Ranying Hatalla Langit.
Menurut Kristian, doa-doa dan persembahan tidak hanya untuk meminta keselamatan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan pada tanah leluhur. “Kami ingin jembatan ini bukan hanya kokoh secara fisik, tetapi juga mendapat restu dari alam,” ujarnya.
Infrastruktur Strategis
Pembangunan Jembatan Sei Asam–Balai Pertanian sendiri bukan proyek kecil. Dengan anggaran Rp14,6 miliar dari APBD-P 2025, proyek ini dikerjakan oleh CV Rezeki Wilda dengan masa kontrak 103 hari kalender.
Bupati Kapuas, H.M. Wiyatno, SP, menegaskan pentingnya jembatan ini. “Di seberang sana ada lebih dari 170 hektare lahan pertanian, termasuk demplot padi dan jagung. Tanpa jembatan, akses masyarakat sangat terbatas. Harapannya, Desember ini bisa selesai dan langsung kita lakukan penanaman perdana,” kata Wiyatno saat ground breaking jembatan beberapa waktu lalu.
Selain membuka jalur pertanian, jembatan ini juga akan terkoneksi dengan ruas jalan 15 kilometer menuju Anjir, Kecamatan Kapuas Timur, yang menjadi akses vital ke Banjarmasin.
Warga sekitar menyambut pembangunan dengan penuh optimisme. Namun, ada pula kekhawatiran tentang keterlambatan proyek atau kendala teknis. Heni Mariati, Kabid Bina Marga PUPR Kapuas, mengakui tantangan waktu yang mepet. “Kami mendorong percepatan dari pihak pelaksana. Kualitas dan ketepatan waktu menjadi taruhan,” ujarnya.
Di sisi legislatif, dukungan penuh datang dari Wakil Ketua I DPRD Kapuas, Yohanes. “Jembatan ini bukan hanya fisik, tapi investasi jangka panjang. DPRD akan mengawal anggaran dan memastikan tidak ada hambatan dalam pengerjaan,” tegasnya, belum lama ini.

Menghubungkan Tradisi dan Modernitas
Uniknya, pembangunan jembatan ini menunjukkan bagaimana pembangunan modern tetap menyisakan ruang bagi tradisi lokal. Bagi masyarakat Dayak Ngaju, tidak ada kontradiksi antara pembangunan dan adat. Sebaliknya, keduanya bisa berjalan beriringan.
Ritual adat memberi legitimasi kultural dan spiritual, sementara pembangunan jembatan membawa manfaat praktis: mempercepat mobilitas, membuka akses pendidikan dan kesehatan, serta meningkatkan ekonomi warga.
Jembatan Sei Asam–Balai Pertanian kini menjadi simbol baru bagi Kapuas Hilir. Ia bukan hanya penghubung dua tepi sungai, tetapi juga jembatan antara masa lalu dan masa depan: mengakar pada tradisi Dayak Ngaju sekaligus melangkah menuju modernitas pembangunan.
Jika semua berjalan sesuai rencana, Desember 2025 jembatan ini akan berdiri kokoh. Namun bagi masyarakat, keberhasilan sejati bukan hanya soal rampungnya proyek, melainkan apakah jembatan ini benar-benar membawa kesejahteraan—serta tetap menjaga harmoni dengan alam dan leluhur. (red/nas)

