PALANGKARAYA – Penundaan penerbangan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat sejumlah penumpang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, harus menunggu lebih lama.
Salah satunya rombongan buruh konstruksi asal Jakarta yang mengaku telah tiga hari tiga malam berada di bandara karena belum dapat melanjutkan perjalanan. Selama menunggu kepastian penerbangan, mereka terpaksa makan dan tidur di area bandara.
Penerbangan menuju Jakarta berulang kali ditunda dan dijadwal ulang karena jarak pandang terganggu kabut asap, sehingga pesawat belum dapat lepas landas. Kondisi udara di Palangka Raya yang disebut semakin memburuk membuat kepastian jadwal keberangkatan belum diperoleh.
Dari pantauan TIMES Indonesia, selain rombongan buruh konstruksi tersebut, sejumlah penumpang lain juga masih tertahan di bandara. Bahkan, sebagian di antaranya mengaku telah menunggu hingga satu minggu.
David (50), salah satu buruh konstruksi dalam rombongan tersebut, mengatakan mereka sudah tiga hari tiga malam bertahan di bandara.
“Kami di sini semua rombongan, sudah tiga hari tiga malam,” ujarnya, (21/9/2026).
David bersama rekan-rekannya datang dari Jakarta untuk bekerja sebagai buruh konstruksi pada proyek Sekolah Rakyat selama empat bulan. Setelah pekerjaan selesai, mereka hendak kembali ke Jakarta.
Namun, menurut David, informasi mengenai kepastian penerbangan dari pihak maskapai masih belum jelas. Sehari sebelumnya, mereka diminta menunggu hingga tanggal 21. Saat kembali menanyakan jadwal keberangkatan, mereka masih belum mendapatkan kepastian.
Selama berada di bandara, kompensasi yang mereka terima baru berupa makanan yang diberikan satu kali sehari. Sebelumnya, mereka harus membeli makanan sendiri dengan harga sekitar Rp25 ribu per porsi, tiga kali sehari.
“Kalau kerugian dihitung rupiah, banyak. Yang pasti soal makan. Bayangkan, satu kali makan Rp25 ribu dikali tiga kali sehari,” kata David.
Para buruh juga belum mengurus pengembalian dana atau refund tiket. David menjelaskan, tiket perjalanan mereka dibeli oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Karena itu, mereka khawatir dana refund nantinya justru dikembalikan kepada perusahaan, bukan kepada para penumpang.
David mewakili rekan-rekannya berharap maskapai dan pihak terkait dapat memberikan solusi, termasuk opsi pengalihan perjalanan melalui moda transportasi maupun bandara lain.
“Kami berharap bisa dialihkan ke mana pun, entah pakai kapal atau pesawat dari bandara lain, supaya tetap bisa pulang,” harapnya.
Sambil menunggu informasi dari pihak maskapai, David dan rekan-rekannya hanya bisa berharap kondisi cuaca dan jarak pandang segera membaik agar mereka dapat kembali ke Jakarta.
Kabut asap akibat karhutla kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Palangka Raya dan membuat sejumlah penumpang harus tertahan di Bandara Tjilik Riwut. Zal


