PALANGKARAYA – Bagi sebagian orang, berhadapan dengan jenazah mungkin menjadi sesuatu yang menakutkan. Namun bagi Aida, perempuan berusia 38 tahun, hal tersebut justru telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Dengan penuh ketelitian dan ketenangan, ia merawat serta merias jenazah sebelum keluarga memberikan penghormatan terakhir. Dalam menjalankan pekerjaannya, Aida terkadang dibantu oleh sang adik.
Bagi Aida, menjadi MUA jenazah bukan sekadar tentang kemampuan merias wajah. Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran, ketenangan, ketelitian, dan yang tak kalah penting, empati.
“Selama 12 tahun menekuni profesi sebagai MUA atau perias jenazah, saya tidak jarang mendapat panggilan dari keluarga yang membutuhkan jasa. Salah satunya melalui Pelayanan Duka Tabitha di Palangka Raya,” ungkapnya kepada awak media, Rabu, 2 September 2026.
Sebab, di balik setiap jenazah yang dirawat, ada keluarga yang sedang berada dalam suasana duka. Karena itu, setiap proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan.
Aida berusaha memberikan perawatan terbaik, agar keluarga dapat melepas kepergian orang yang mereka cintai dengan lebih tenang.
Bagi Aida, pekerjaan ini bukan tentang gengsi. Ia hanya ingin mencari rezeki dengan cara yang halal, menghidupi keluarga, membiayai pendidikan anak-anak, sekaligus perlahan menata masa depan.
Selama 12 tahun, tangannya telah memberikan sentuhan terakhir sebelum jenazah disemayamkan dan mendapat penghormatan terakhir.
Dari pekerjaan yang mungkin bagi sebagian orang terasa berat, Aida justru menemukan makna tentang ketulusan, tanggung jawab, dan arti bekerja untuk keluarga.
Sebab, di balik setiap wajah yang ia rawat, ada kisah kehidupan yang telah selesai. Dan di balik pekerjaannya, ada kehidupan keluarga Aida yang terus ia perjuangkan. Zal


