PALANGKA RAYA – Rencana menjadikan Terminal W.A. Gara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, sebagai arena balapan menuai penolakan dari sejumlah warga yang bermukim di sekitar kawasan tersebut.
Warga khawatir aktivitas balapan memicu kebisingan knalpot brong, mengganggu ketenangan lingkungan, hingga membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Salah seorang warga, Listia Marwah (29), yang tinggal tepat di belakang terminal, mengaku keberatan jika kegiatan balapan berlangsung pada siang, sore, hingga malam hari.
Menurutnya, suara kendaraan yang bising berpotensi mengganggu waktu istirahat masyarakat, terutama warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi kegiatan.
Selain kebisingan, Listia juga menyoroti akses jalan yang digunakan masyarakat untuk keluar masuk permukiman di belakang terminal. Ia khawatir aktivitas balapan menghambat mobilitas warga, sehingga mereka harus memutar melalui jalur lain yang lebih jauh.
Tak hanya itu, ia juga mengkhawatirkan risiko kecelakaan akibat kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi di sekitar kawasan permukiman. Bahkan, menurutnya, warga beberapa kali menghadapi situasi nyaris tertabrak.
“Lebih baik mereka ke sirkuit saja. Ini terminal, bukan tempat balapan,” tegasnya.
Listia menambahkan, keselamatan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya juga menjadi perhatian utama. Ia tidak ingin anaknya maupun anak-anak lain di sekitar terminal terpapar aktivitas balapan yang berisiko.
Karena itu, ia berharap rencana penggunaan terminal sebagai arena balapan dikaji kembali dengan mempertimbangkan keberadaan permukiman yang berada tepat di belakang kawasan tersebut.
Keluhan serupa disampaikan Indah Hidayah (19). Ia mengaku terganggu dengan suara knalpot brong yang terdengar hingga ke permukiman dan berpotensi mengganggu waktu istirahat warga.
Menurut Indah, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya ketika balapan berlangsung, tetapi juga aktivitas pengendara sebelum dan sesudah kegiatan. Ia khawatir pengendara masih memacu kendaraan di jalan sekitar, termasuk Jalan Kalibata dan gang-gang kecil yang menjadi akses masyarakat menuju rumah.
Indah juga menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat pulang bekerja pada malam hari. Ia mengaku pernah merasa terkepung oleh aksi balapan liar di jalan raya hingga mengalami pelecehan verbal. Pengalaman tersebut membuatnya merasa takut ketika melintasi jalan pada malam hari.
“Sebagai perempuan yang pulang bekerja malam, saya berharap keselamatan dan kenyamanan warga menjadi pertimbangan utama sebelum terminal digunakan sebagai lokasi balapan,” tuturnya.
Keberatan juga disampaikan Masitah B Duris (42), warga sekitar lainnya. Ia mengaku mudah terkejut ketika melihat aktivitas balapan dan khawatir kegiatan tersebut mengganggu ketenangan masyarakat.
Masitah berharap kegiatan otomotif dilaksanakan di lokasi yang telah ditentukan dan tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar terminal.
Sementara itu, Kasatlantas Polresta Palangka Raya, Kompol Hermanto, menjelaskan bahwa rencana penggunaan Terminal W.A. Gara sebagai lokasi balapan masih sebatas usulan. Penentuan lokasi, menurutnya, harus mempertimbangkan aspek keselamatan serta respons masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Ia mengakui, pemilihan lokasi untuk kegiatan balapan memiliki sejumlah kendala. Kawasan Tilung, misalnya, juga menghadapi persoalan kepadatan penduduk sehingga perlu mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan sekitar.
Menurut Hermanto, sirkuit dapat menjadi salah satu alternatif untuk menyelenggarakan kegiatan balapan. Namun, pelaksanaannya harus memenuhi persyaratan keselamatan atau safety, baik bagi pembalap maupun pihak lain yang terlibat.
Ia memahami adanya keberatan dari joki dan mekanik terkait biaya perlengkapan keselamatan apabila kegiatan dipindahkan ke sirkuit. Meski demikian, aspek keselamatan tetap harus menjadi prioritas.
Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah penyediaan fasilitas dan perlengkapan keselamatan melalui penyewaan dari pihak rekanan.
Hermanto menegaskan, pihaknya terbuka mempertimbangkan lokasi alternatif apabila masyarakat keberatan dengan rencana penggunaan Terminal W.A. Gara. Ia juga mengaku menerima keluhan warga mengenai suara knalpot brong serta aktivitas balapan liar di kawasan tersebut.
Menurutnya, aspirasi masyarakat perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi kegiatan agar tidak kembali menimbulkan gangguan terhadap lingkungan permukiman.
Selain itu, Sirkuit Sabaru turut disebut sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan. Namun, lokasi tersebut perlu dipersiapkan dengan memperhatikan kebutuhan perlengkapan keselamatan dan fasilitas pendukung kegiatan.
Warga berharap rencana penyelenggaraan balapan di Palangka Raya dapat dikaji secara matang dengan mengutamakan keselamatan, ketertiban, serta kenyamanan masyarakat.
Mereka juga berharap kegiatan otomotif dilaksanakan di lokasi yang sesuai tanpa mengganggu akses jalan maupun ketenangan warga yang bermukim di sekitar terminal. Zal


