PALANGKA RAYA –Kekecewaan peternak ayam lokal terhadap pemadaman listrik berulang di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali memuncak. Dalam Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) Jilid VII, Jumat (30/10/2026), massa membuang sekitar 4.000 bangkai ayam di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya.
Pembuangan bangkai ayam tersebut menjadi simbol besarnya kerugian peternak akibat pemadaman listrik yang berdampak langsung terhadap operasional kandang. Ini merupakan kali kedua peternak membawa bangkai ayam ke kantor PLN sebagai bentuk protes.
Bangkai ayam diangkut menggunakan mobil pikap, kemudian diletakkan di depan kantor PLN. Para peternak mendesak perusahaan listrik itu segera menghentikan pemadaman berulang dan menjamin pasokan listrik yang stabil.
Massa juga menuntut penjelasan terbuka mengenai penyebab pemadaman serta langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa.
Salah satu peternak, Satrio (35), menegaskan bahwa kematian ayam akibat pemadaman listrik menjadi persoalan serius yang mengancam keberlangsungan usaha peternakan.
Sementara itu, Koordinator Lapangan GPG, Fiteli, mengatakan para peternak terus menyampaikan keluhan dan berkoordinasi terkait kerugian yang dialami.
Fiteli menegaskan, para peternak akan kembali turun ke jalan apabila pemadaman listrik masih berlanjut.
Menurutnya, kerugian yang dialami peternak sangat signifikan sehingga PLN harus memberikan solusi nyata untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kami kembali mendatangi Kantor PLN karena General Manager PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah belum hadir untuk memberikan penjelasan secara langsung,” kata Fiteli saat diwawancarai awak media.
Massa menyampaikan tiga tuntutan utama, yakni menghentikan pemadaman listrik bergilir, menjamin pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan, serta melakukan evaluasi secara transparan terhadap kinerja PLN UP3 Palangka Raya. Zal


