KUALA KAPUAS – Kegagalan bukan akhir dari perjuangan bagi Nanda Widya Putri. Siswi kelas XIIE SMAN 2 Kuala Kapuas ini membuktikan bahwa ketekunan dan kemauan untuk terus belajar dapat mengantarkan seseorang meraih prestasi lebih tinggi. Setelah belum berhasil menembus tingkat nasional pada 2025, Nanda akhirnya meraih medali perunggu atau juara III cabang lomba jurnalistik FLSEN tingkat nasional pada 2026.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nanda, yang sebelumnya lebih dahulu meraih hasil terbaik di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah hingga berhak melaju ke kompetisi nasional.
Saat ditemui pada Selasa (20/10/2026), Nanda mengungkapkan bahwa pengalaman tahun sebelumnya menjadi motivasi untuk memperbaiki kemampuan dan mempersiapkan diri secara lebih serius.
Ia memperbanyak membaca artikel, mempelajari berbagai referensi jurnalistik, serta mendalami teknik penulisan agar mampu menghasilkan karya yang sesuai dengan ketentuan lomba.
Menurut Nanda, kompetisi jurnalistik memiliki tantangan tersendiri. Peserta tidak hanya dituntut mampu menyusun artikel berdasarkan tema yang ditentukan, tetapi juga harus mengolah informasi secara tepat, memilih narasumber yang relevan, serta mempertanggungjawabkan keaslian karya melalui tahapan wawancara bersama dewan juri.
Di balik pencapaiannya, Nanda mengaku mendapat dukungan besar dari guru sekaligus mentornya, Edelweis Gardena Eddra Nasution, S.Pd., M.Pd. Bimbingan yang diberikan membantu dirinya memahami pemilihan kosakata, penyusunan kalimat, hingga teknik penulisan yang sesuai dengan kaidah jurnalistik.
Nanda menyebut Edelweis bukan hanya sebagai guru pembimbing, melainkan juga sosok yang memberikan perhatian, arahan, dan semangat selama proses persiapan berlangsung.
Ia pun mengungkapkan rasa syukur karena dapat membawa nama sekolah dan Kabupaten Kapuas ke tingkat nasional melalui prestasi tersebut.
Sementara itu, Edelweis mengaku bangga atas keberhasilan anak didiknya. Ia berharap pencapaian Nanda dapat menginspirasi siswa lain untuk terus mengembangkan kemampuan dan berani mengikuti berbagai kompetisi.
Menurutnya, kekalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan, sedangkan kemenangan perlu dijadikan pijakan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi tanpa membuat seseorang menjadi tinggi hati.
Perjalanan Nanda menjadi pengingat bahwa kegagalan dapat membuka jalan menuju keberhasilan ketika dihadapi dengan tekad, kedisiplinan, dan kesediaan untuk terus belajar. (nas)


