Oleh: Reno, S.Kom., M.I.Kom.
Peserta Training of Trainers (ToT) Angkatan 41 Lemhannas RI / Dosen Politeknik Muara Teweh / Ketua Forum Pemred SMSI Kalteng Reno, S.Kom., M.I.Kom bersama Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi
JAKARTA — Selasa pagi, 8 September 2026. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.30 WIB ketika saya melangkah menuju Gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Jakarta. Hari kedua Training of Trainers (ToT) Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PNNK) Angkatan 41 yang diikuti 100 peserta dari kalangan dosen, guru, dan widyaiswara ini dimulai dengan kedisiplinan ketat.
Panitia menetapkan batas waktu presensi pukul 07.15 WIB. Mekanismenya dibuat teratur dalam empat kelompok. Pancasila (A), UUD 1945 (B), NKRI (C), dan Bhinneka Tunggal Ika (D). Antrean absensi manual di depan Ruang Pancasila pagi itu sempat memicu sedikit catatan kritis. Sebuah gambaran kecil tentang bagaimana para pendidik ini kelak mengelola efisiensi di ruang kelas mereka masing-masing.
Tepat pukul 08.00 WIB, suasana berubah hangat. Moderator Murtado, S.Pd. memandu pembukaan materi ceramah kebangsaan bertajuk Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara. Gemuruh tepuk tangan menyambut kedatangan narasumber utama Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi,seraya menyambut datangnya Lebaran IdulFitri setelah puasa sebulan penuh.
Sebelum masuk materi moderator memperkenalkan biografi narasumber. Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi bukanlah nama asing dalam lanskap pertahanan nasional. Alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) 1990 ini memiliki rekam jejak panjang, mulai dari Danyonif 7 Marinir, Wadan hingga Dangrup B Paspampres, tugas perdamaian PBB di Unifil 23B, hingga berbagai operasi dalam negeri seperti di Sambas, Ternate, dan Aceh.
Dalam pemaparannya selama 90 menit, Mayjen Ipung membawa perspektif geopolitik yang tajam. Ia menyoroti dinamika global saat ini, di mana perang tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik, melainkan pertarungan domain ekonomi dan pengaruh hegemonik. Indonesia, menurutnya, tidak boleh lengah dalam mengukur konstelasi politik luar negeri serta potensi ancaman yang dapat merugikan kedaulatan negara.
Ia juga mengulas daya tahan pertahanan Iran dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat sebagai pelajaran penting mengenai keberanian dan kalkulasi strategis dalam merespons ancaman luar.
Sesi diskusi berlangsung hidup dan dinamis. Layaknya suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) di gedung rakyat ketika membahas Anggaran Pendapat Belanja Negara (APBN), para peserta antusias melempar pertanyaan strategis. Isu yang diangkat berkisar pada kesiapan sistem pertahanan Indonesia menghadapi era perang berbasis teknologi tinggi hingga relevansi teori-teori geostrategi klasik.
Diskusi menyentuh pemikiran tokoh geopolitik dunia seperti Alfred Thayer Mahan (kekuatan laut), Halford H. Mackinder (kekuatan darat/jantung dunia), hingga Nicholas J. Spykman (pesisir). Dalam konteks Indonesia, teori-teori tersebut bertaut dengan realitas doktrin pertahanan nasional.
Mayjen Ipung menjelaskan bagaimana Indonesia mengkombinasikan penguatan sektor laut dan darat melalui pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I, II dan III di bawah kendali Panglima TNI, serta pemenuhan postur kekuatan darat melalui penebalan pasukan dengan penempatan 1 bataliyon 1 Kabupaten. Strategi ini dirancang untuk memastikan kesiapan pasukan, baik dalam skenario perang maupun kondisi non-perang (OMSP).
Penguatan geostrategi Indonesia yang berlandaskan Wawasan Nusantara tidak hanya berfokus pada kedaulatan wilayah dan keutuhan NKRI, tetapi juga mencakup ketahanan ekonomi, sosial, dan budaya. Pemahaman mendalam inilah yang menjadi bekal krusial bagi para peserta ToT Angkatan 41 Lemhannas RI untuk kemudian diteruskan kepada generasi muda di perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di seluruh pelosok tanah air. (Bersambung)


