Palangka Raya – Isu kemunculan fenomena cuaca ekstrem El Nino yang ramai disebut-sebut sebagai “Godzilla” pada 2026 belakangan ini mulai membuat warga Kalimantan Tengah waswas. Fenomena tersebut dikaitkan dengan ancaman kemarau panjang serta suhu panas ekstrem.
Menanggapi hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Tengah akhirnya memberikan penjelasan resmi. Lembaga cuaca itu meminta masyarakat tidak terpancing istilah viral yang belum tentu sesuai fakta ilmiah.
Prakirawan BMKG Kalteng, Renianatae, menjelaskan bahwa istilah “El Nino Godzilla” bukan klasifikasi resmi yang digunakan BMKG. Menurutnya, lembaga meteorologi hanya mengenal tiga kategori El Nino, yakni lemah, sedang, dan kuat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat wawancara di ruang Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut, Jalan Adonis Samad, Kota Palangka Raya, Kamis (30/4/2026).
“Istilah El Nino Godzilla itu bukan berasal dari BMKG. Kami secara resmi mengategorikan El Nino menjadi tiga, yaitu lemah, sedang, dan kuat,” ujar Renianatae.
Ia mengungkapkan, berdasarkan pemantauan terbaru, potensi El Nino tahun 2026 saat ini masih didominasi kategori lemah dengan peluang mencapai 96 persen. Sementara potensi kategori sedang berada di kisaran 50 persen.
Meski tergolong lemah, dampaknya tetap perlu diwaspadai. BMKG memprediksi periode Mei hingga Juli 2026 akan terasa lebih panas dan kering dibanding tahun 2025 yang nyaris tanpa pengaruh El Nino.
“Mei, Juni sampai Juli nanti suhu akan meningkat dan curah hujan berkurang. Ini harus diwaspadai karena dapat menambah kondisi kekeringan di wilayah kita,” jelasnya.
BMKG Kalteng juga telah memetakan sejumlah wilayah rawan titik panas atau hotspot selama musim kemarau. Kawasan yang dinilai berpotensi tinggi berada di wilayah tenggara dan pesisir, seperti Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur bagian selatan, hingga Kota Palangka Raya.
Menurut Renianatae, daerah-daerah tersebut cenderung memiliki suhu lebih panas dan berisiko tinggi terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) saat curah hujan mulai menurun.
Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, BMKG memastikan seluruh prakirawan atau forecaster siaga penuh selama 24 jam. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait juga terus dilakukan melalui sistem komunikasi digital dan pembaruan data berkala.
“Kami terus memantau suhu muka laut di Pasifik setiap saat. Koordinasi dengan pusat maupun daerah lain aktif 24 jam agar informasi peringatan dini cepat sampai ke pihak terkait,” tegasnya.
BMKG pun mengimbau masyarakat mulai bersiap menghadapi musim panas, di antaranya mengurangi aktivitas luar ruangan saat suhu tinggi, menjaga ketersediaan air bersih, serta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kondisi masih dinamis. Jika status El Nino meningkat dari lemah ke sedang atau kuat, kami akan segera memperbarui informasi. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar kabut asap tidak kembali terjadi,” pungkasnya. Zal

